Tuesday, October 8, 2013

Resume Pendakian Gunung Kerinci 2013

Waaa akhirnya resume ini jadi juga setelah dirancang dan dirangkai sedemikian rupa #lebays. Well sobs semua, jadi ceritanya bulan lalu gw (akhirnya) melakukan pendakian ke Gunung Kerinci. Gak kayak pendakian gw yang sebelumnya, kali ini gw didukung sama bokap secara moril (maupun materiil, hehe) karenaaaa INI KERINCI MEEEEN!!! Sebagai keturunan asli orang Kerinci, rasanya ada perasaan mutual sesuatu gitu sama gunung ini. Nah sebelum gw jabarkan resumenya, ada baiknya gw jelasin rencana awal pendakiannya yes! Cekidot!!

Expectation: Pendakian Gunung Kerinci & Gunung Tujuh

Selasa, 27 Agustus 2013
Terbang dari Cengkareng ke Batam buat International Seminar and Workshop on Hydrography (ISWH) 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
(10.30 - 11.35) Terbang dari Batam - Padang
(12.00 - 18.00) Belanja logistik, istirahat, packing, dll
(19.00 - 02.00) Perjalanan Padang - Kersik Tuo
Kamis, 29 Agustus 2013
(06.00 - 08.00) Belanja sayuran & sarapan
(08.00 - 20.00) Start Tugu Macan - ngecamp di Shelter 3
Jumat, 30 Agustus 2013
(02.00 - 03.00) Persiapan buat summit attack
(03.00 - 06.30) Shelter 3 - Puncak Gunung Kerinci
(06.30 - 07.30) Leyeh-leyeh di puncak, foto-foto, ngadem-ngadem
(07.30 - 09.30) Puncak - Shelter 3
(09.30 - 10.30) Makan, beberes
(10.30 - 16.30) Shelter 3 - Tugu Macan
Sabtu, 31 Agustus 2013
(06.00 - 08.00) Belanja sayuran & sarapan
(08.00 - 09.00) Kersik Tuo - Palompek Pendek
(09.00 - 12.00) Palompek Pendek - Danau Gunung Tujuh
(12.00 - besok paginya) Camping tepi danau, mancing-mancing, bakar-bakar
Minggu, 1 September 2013
(06.00 - 08.00) Danau Gunung Tujuh - Palompek Pendek
(08.00 - 16.00) Kembali ke Padang

Ya namanya juga rencana kan ya, belom pasti sesuai sama kenyataan. Berikut ini gw jelasin semua dari persiapan sampe pulang kembali ke Bandung.

Reality

Persiapan 1, sekitaran Juni 2013

Jadwal pendakiannya ditentuin yaitu tanggal 29 Agustus 2013 karena tanggal 27nya gw mesti ke Batam dulu buat ngisi seminar ISWH (jadi biar sekali jalan gitu). Nah gw mulai cari-cari temen yang berminat naik Gunung Kerinci juga. Udah ada beberapa yang minat ikut. Setelah fix, gw pun beli tiket pesawat Sriwijaya Air Cengkareng - Batam (27-08-13) dan Citilink Batam - Padang (28-08-13). Pemilihan airlinesnya menurut harga tiket termurah di jadwal tsb. Karena naik dua kali pesawat, jadinya ongkos transport menuju Padang yang gw keluarin gede. Ditha yang gak ikutan seminar berangkat langsung Cengkareng - Padang pake Lion Air (28-08-13). Nah mungkin ongkos Ditha ini yang bisa dijadiin acuan budget transportasi ke Kerinci. Saran buat temen-temen yang mau ke Kerinci jalur udara, mendingan tujuan langsung ke Padang dibanding ke Jambi. Waktu perjalanan Padang - Kersik Tuo hanya 7 jam sedangkan Jambi - Kersik Tuo ±12 jam. Lagipula kalo dari Jambi via Bangko - Sungai Penuh - Kersik Tuo, kondisi jalan kurang begitu bagus.

Expenses #1: Sriwijaya Air 734.200 IDR, Citilink 468.500 IDR, Lion Air 485.000 IDR
Total Expense #1: 1.202.700 IDR (Gw) dan 485.000 IDR (Ditha)

Persiapan 2, 13-23 Agustus 2013

Latihan fisik. Mengingat medan yang harus dilalui di Gunung Kerinci nanti berat, fisik bener-bener harus kuat bro. Gw juga gak mau nyusahin temen-temen gw nantinya kalo gw gak kuat fisik. Nah, butuh niat gede buat mulai latfis setelah makan banyak selama lebaran, hehe. Latihan fisik yang gw lakukan adalah jogging nonstop di Saraga sistem nyicil. Hari pertama 5 keliling, kedua 6 keliling, dan seterusnya sampe 9 keliling, hampir setiap hari. Porsinya sesuaikan dengan kemampuan aja. Tiga hari menjelang keberangkatan gw istirahatkan fisik biar gak tepar nantinya.

Eksekusi

Selasa, 27 Agustus 2013

Berhubung bokap lagi sakit cacar, jadinya gw naksi aja dari rumah (Cijerah) ke pool Cipaganti DU sekitaran jam 3 subuh. Nyampe Bandara Soetta sekitaran jam 07.00 WIB dan langsung check in sama Tami (Tami ini barengan gw ngisi seminar di Batam). Berangkat tepat waktu jam 09.20 WIB dan sampe di Bandara Hang Nadim jam 11.00an WIB. Dari bandara kita sempet bingung mau ke Hotel Harmoni One (tempat seminar & nginep) pake apa soalnya denger-denger ongkos taksi bandara mahal booot. Kalopun mau murah mesti keluar area bandara dulu, dan itu jauhnya ampun dah mana barang bawaan (gue sih) banyak betul. Akhirnya kita putuskan dan ikhlaskan naik taksi di bandara aja. Sampe hotel kita seminar dll sampe foto-foto geje dan akhirnya tidooor. Kita nginep sekamar bertiga (gw, Tami, Corry) jadinya ongkos nginep pun dibagi tiga.

Expenses #2: Taksi 50.000 IDR, Travel Cipaganti 125.000 IDR, Airport Tax 40.000 IDR, Patungan taksi @ 40.000 IDR, Hotel @170.000 IDR
Total Expense #2: 425.000 IDR

Presentasi yang Alhamdulillah penontonnya dikit haha. (Aulia, 2013)
Tami dan gw after ngisi seminar (Aulia, 2013)
Hotel tempat seminar & bermalam di Batam (Ekaputri, 2013)
Rabu, 28 Agustus 2013

Beres sarapan syalala gw langsung buru-buru cabut karenaaa udah telat!! Hahah. jadwal pesawat jam 10.30 WIB dan gw jam 09.45 WIB masih di hotel!! Akhirnya gw dan Dika (temen baru dari Magister Geomatika ITS) ke bandara pake mobil hotel dan harus bayar lebih mahal. Pak supirnya gw paksa ngebut jadinya sampe bandara jam 10.10 WIB dan Alhamdulillah masih bisa check-in. Pesawat sampe Padang jam 12.00an WIB, terlambat 30 menit dari jadwal. Jadi ceritanya keberangkatan ditunda soalnya ada anak kecil rewel bener kaga mau diem padahal udah dibujuk rayu sama mba-mba pramugari.

Bocah: "Gak mau naik pesawat ini, maunya yang ituu... Pesawat ini jeyeeeek. Huuu..huhh..huh...." sambil nunjuk pesawat sebelah yang warnanya biru dan merah. 

Si bocah gak mau duduk dan pake seatbelt jadinya kepaksa dah berangkat begitu adanya. 

Sebelum balik duluan ke Padang (mba2 hotel, 2013)
Wildo dan Oyon jemput gw di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Mereka ini juniornya si Dayat di Sispala Rinjani SMAN 10 Padang. Dayatnya manaaa? Dayat kerja di Bangka, jadinya merekalah yang bertugas nemenin gw dan Ditha ke Kerinci. Ditha sendiri baru berangkat jam 16.00an WIB dan nyampe jam 18.00 WIB. Begitu sampe padang, gw langsung diajak makan di Alun, tepi pantai Bung Hatta, yang langsung disambut GEMPA BUMI. Mehehehehe. Herannya, orang-orang disana stay cool and lovely dan tetep makan pas gempa. Udah biasa kayaknya, hehe. Terus terang gempa ini agak bikin panik takutnya si Kerinci batuk. Belakangan kita tau kalo pusat gempa dari Sungai Penuh. 

Alun, Pantai Bung Hatta (Ekaputri, 2013)

Setelah makan kita pesen travel Padang - Sungai Penuh di PO Sahabat Kerinci Wisata buat 3 orang. Berhubung Oyon akan mampir pulang dulu ke rumahnya di Padang Aro, jadi doi gak bareng sama kita. Dia bakal naik travel tembak yang lewat Padang Aro. Travel kita pake mobil Avanza dengan jadwal berangkat jam 19.00 WIB dijemput ke tempat kita. Ongkos travel per orangnya 90.000 IDR. Setelah pesen travel, kita langsung cabs ke Sekre Sispala Rinjani di Lembang buat naro barang-barang gw. Sambil nunggu Ditha sampe Padang sore nanti, kita + Iqbal (ketua Sispala Rinjani) belanja logistik dan makanan di Rocky Plaza, setelah itu makan cendol bentar di pinggir jalan deket sana (Padang panas gelaaa). Gw mampir ke counter pulsa buat beli kartu perdana karena provider 3 dan smartfren belom ada jaringannya di Kerinci dan sekitarnya. Provider yang recommended adalah Telkomsel as we know it.

Setelah belanja kita balik lagi ke sekre buat re-packing. Sekre pun mendadak rame dan ada Frans. Gw kenal si Frans waktu naik Gunung Gede tahun 2010 (ceritanya malem itu juga dia bakal balik ke Bandung soalnya perkuliahan udah dimulai). Magrib menjelang tapi belom juga ada kabar dari Ditha. Dan hujaan badai turunlah di Padang. Wildo lagi pulang ke rumah buat naro motor, jadinya yang jemput Ditha ke bandara si Frans, Ozik, sama 1 lagi gw lupa namanya siapa. Gw, Oyon, Iqbal, & Indra stay di sekre. Sampe jam 18.30 masih belom ada kabar juga dari Ditha terus gw panik. Gw coba whatsapp tapi gak sampe, coba telpon gak aktip, berarti dia masih di pesawat! Terus gw makin panik soalnya airline dia LION. Takut ada apa-apa mana Padang lagi hujan lebat. Wildo sibuk telpon travel (dari rumahnya), pake berantem sama juragannya gara-gara kita cancel travel buat malem itu. Tadinya travel mau nungguin kita sampe jam 8 malem tapi berhubung gak kunjung ada kabar dari Ditha, fix dibatalin. Setelah nego, akhirnya kita deal buat ganti jadwal ke Kerinci jam 09.00 WIB besok paginya.

Berkat bantuan Kibay, Ibe, Budi, dll keberadaan pesawat si Ditha bisa dilacak. Terroos pesawat dia terbang di atas Sibolga aja gituu!!! Sumpah gw panik banyak-banyak doa takut ada apa-apa itu pesawat. Nah ternyata pesawatnya berhenti di Bandara Kualanamu. Jam 19.30 Ditha nelpon gw (entah sambil nangis atau ketawa, gw udah ga bisa bedain) ngabarin kalo beliaw di Kualanamu. Penerbangan dialihkan karena cuaca di Padang buruk. Oke, Alhamdulillah lega. At least si Ditha baik-baik aja disana. Akhirnya rombongan Frans balik lagi ke sekre tanpa Ditha. Frans pun pulang ke rumahnya lalu balik lagi ke BIM soalnya jadwal pesawat doi jam 9 maleman.

Jam 21.00an WIB Ditha udah sampe BIM, tapi hujan di Padang yang tadinya udah reda malah turun lagi. Oyon pun gak jadi pulang (lagi). Setelah hujan mereda, sekitar jam 22.00an WIB gw-Wildo-Ozik jemput Ditha di BIM tapi di jalan kehujanan lagi. Terus disana masih ada si Frans yang ternyata pesawatnya delay sampe jam 2 soalnya dia pake LION!! ZZZ.  Habis itu jam 23.00an WIB kita makan malem trus balik lagi ke sekre. Oyon udah jalan ke kampungnya di Padang Aro. Karena ini darurat di luar rencana, jadinya kita harus nginep dulu semalem di Padang. Wildo masang tenda di dalem sekre khusus buat gw sama Ditha tidur.

Expenses #3: Taksi hotel 50.000 IDR, Airport Tax 30.000 IDR, Makan di Alun @17.000an IDR, Travel ke Kerinci 90.000 IDR, Belanja makanan & logistik @125.000 IDR (pukul rata patungan tiap orang), Es cendol 5.000 IDR, Kartu perdana AS 12.000 IDR, makan malem 13.000 IDR.
Total Expense #3: 342.000 IDR

Kamis, 29 Agustus 2013

Bangun sekitar jam 07.00an WIB, kita langsung cari tempat buat numpang mandi, yaitu di rumah Deby temen kuliahnya si Wildo. Habis itu kita sarapan bubur kampiun, pical, sama lontong padang di sekitaran sana (sesuai selera masing-masing). Balik lagi ke sekre, beberes tenda, terus cek lagi perlengkapan. Di pendakian ini gw, Ditha, sama Wildo bawa kamera. Tapi ternyata si Wildo lupa bawa memori dan doi baru sadar pas ngecek ini. Sempet sih nyari memori namun berhubung dirasa mahal jadinya batal deh. Setelah itu gw sama Ditha beli air minum, obat-obatan, permen, dan coklat buat perjalanan ke Kerinci di toko Aksa Mart, habis sekitar 30.000 IDR dari gw aja, ga pake dimasukin anggaran patungan.

Jam setengah 10 travel jemput kita di Lembang, trus langsung tancap menuju Kerinci. Keluar dari Padang, sinyal 3 dan smartfren udah gak bisa ditangkep. Sekitar jam 14.00 WIB kita berhenti di Muara Labuh buat makan siang di warung padang. Ya, makannya semacam ayam gulai, dendeng, ayam goreng plus es teh manis, habis 50.000 IDR buat bertiga. Oyon gak jadi nyetopin travel kita karena isinya udah fully loaded. Kebanyakan barang, ya barang pendakian kita haha. Supir travel yang kita tumpangin ini terlalu sering berhenti nongkrong, yang harusnya kita bisa sampe di Desa Kersik Tuo jam 17.00an WIB malah jam 19.00an WIB. Kita turun di depan ATM BNI Kersik Tuo, ngambil duit bentar buat bayar sisa travel. Oiya, disini tersedia ATM BNI sama BRI. Karena pendakian Gunung Kerinci dari Pintu Rimba sampai Shelter 1 gak boleh malem (setelah ini gw jelasin), jadi kita cari penginapan buat malem itu. Lagian Oyon juga belom dapet tumpangan travel buat ke Kersik Tuo. So, pendakian kita mundur sehari dari rencana awal yang harusnya tanggal 29 jadi tanggal 30.

Berdasarkan rekomendasi dari Dayat, kita nginep di Penginapan Paiman. Tempatnya gampang dicari kok, di pinggir jalan deket Tugu Macan dan ada plank-nya. Biaya nginep di Paiman dihitung per orang per malem, 30.000 IDR. Kamarnya pun kita bisa pilih di lantai 1 atau 2, mau yang double bed atau single bed. Setelah pilih kamar di lantai 2 (gw sama Ditha, Wildo sama Oyon), kita bersih-bersih lalu mengistirahatkan diri. Saran buat temen-temen, perjalanan dari Padang-Kersik Tuo atau Jambi-Kersik Tuo lebih baik dilakukan malam hari. Kenapa? Soalnya kita bisa sekalian tidur + istirahat di mobil. Kalo siang, kita pasti tidur juga di mobil (jalannya aduhai berkelok-kelok bikin ngantuk), sampe penginapan malemnya tidur lagi. Kebayang kan waktu yang terbuang habis buat tidur doang.

Jam 22.00an WIB kita disuruh makan sama mbak Paiman. Iya, panggil mereka mbak/mas, bukan uda/uni karena sebagian besar penduduk Desa Kersik Tuo ini keturunan Jawa. Tadinya kita pikir baek bener mbaknya ngasih kita makan gratis, taunya setiap orang dikenai 13.000 IDR buat makan. Ora opo-opo sing penting perut keisi. Karena Oyon gak kunjung dateng, kita pun tidur duluan.

Kamar di Penginapan Paiman (Ekaputri, 2013)
Expenses #4: Sarapan @5.000 IDR, Makan siang @17.000 IDR, Penginapan Paiman @30.000 IDR, Makan malem @13.000 IDR
Total Expense #4: 65.000 IDR

Jumat, 30 Agustus 2013

Oyon pun akhirnya dateeeng jam 2 pagi!! Akhirnyaaa… udah was-was aja kalo pendakian bakal diundur sehari lagi, soalnya yang paham Kerinci si Oyon. Pendakian dia ini udah yang ke-5 kalinya. Jam setengah 7 pagi kita mulai keluar dari selimut masing-masing, itu juga masih gak ikhlas. Kerinci dingin pisaaaan sob! Kita berempat re-packing lagi, milah milih barang yang perlu dibawa naik dan yang ditinggal. Sementara gw dan Ditha masih packing, Oyon dan Wildo cari sayur segar dan sarapan lontong padang, plus memory card. Si Wildo beli 100.000 IDR 4 Gb, tau gitu mah beli aja pas di Padang -.- Pada akhirnya yang bawa kamera naik ke Kerinci cuma gw sama Wildo, si Ditha mendadak males bawa kamera karena ternyata dia juga lupa bawa memory card -..-

Sekitar jam 08.00 WIB kita check-out dari Paiman. Semua barang dibawa karena kita gak bakal nitipin di Paiman. Kita nitip barang di tempat temennya Oyon, panggilannya Emak. Emak emang udah emak-emak. Emak ini punya kios kelontong di pinggir jalan deket Tugu Macan. Emak baiiik banget sama kita, jadi barang-barang kita titipin di kios Emak, gratis.

Nah gw ceritain dulu keadaan geografis di sekitar Gunung Kerinci. Gunung Kerinci ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Desa Kersik Tuo adalah rute favorit untuk naik dan turun Gunung Kerinci. Sejauh mata memandang, kita bisa liat hamparan perkebunan teh terbesar se-Asia Tenggara, Kayu Aro, dengan ketinggian sekitar 1700 mdpl. Tugu macan merupakan tanda jalur awal pendakian Gunung Kerinci. TNKS adalah habitat banyak binatang termasuk harimau sumatera yang masih eksis sampai sekarang. Mereka berkeliaran di hutan Gunung Kerinci pada malam hari, tepatnya di sekitar Pintu Rimba sampai Shelter 1. Makanya tugunya bentuk macan dan pendakian di malam hari gak dianjurkan. Konon katanya kita gak boleh nyebut “harimau” ketika di hutan karena mereka punya semacam insting “ngerasa dipanggil”. Orang Kerinci menyebut mereka dengan sebutan “Tuo Daheak” (Tuo=yang dituakan, daheak=ladang [karena mereka berkeliaran dekat ladang]).

Hamparan kebun teh Kayu Aro (Ekaputri, 2013)
Tugu Macan - Pintu Rimba (08.42 - 09.45 WIB)

Di Tugu Macan kita nungguin mobil tumpangan pick-up (punya warga yang biasa dipake buat ngangkut sayur mayur hasil perkebunan mereka) buat ke Pintu Rimba. Kita harus hemat energi, sayang banget kalo udah banyak kebuang sebelum Pintu Rimba, perjalanan masih panjang bung! Karena kita terbilang berangkat kesiangan (jam 08.20 WIB) mobil pick-up pun jarang yang lewat. Sambil nunggu kita nongkrong dan foto-foto di Tugu Macan. Kondisi jalan disini masih beraspal. Jam 08.42 WIB kita dapet tumpangan pick-up bareng rombongan pendaki lain dari Mapala Unand. Di sekitaran R10 udah mulai terhampar ladang warga (bukan teh). Harusnya sih kita lapor di R10 tapi disana gak ada yang jaga, harus ke pos TNKS di Sungai Penuh. Bisa juga kita lapornya ke penginapan tempat kita habis nginep, kalo kita kemaren lapor ke Emak. Biasanya kalo udah kelamaan gak turun juga, ntar dicari. Karena si pick up gak bakal lewat Pintu Rimba, makanya kita turun di persimpangan jalan yang sebenernya masih jauh dari sana sedangkan rombongan Unand turun di R10.

Waktu berangkat Kerinci lagi gak malu-malu (Ekaputri, 2013)

Akhirnya dapet tebengan pick-up (Ekaputri, 2013)
Dari jam 08.54 WIB kita nunggu tumpangan lagi di persimpangan ini tapi mungkin karena udah terlalu siang jadinya gak ada pick up yang lewat lagi. Yaudah deh kita mulai jalan buat ke pintu rimba, sambil berusaha nebeng motor penduduk yang mau ke ladang. Warga sini ada yang mau ngasih tumpangan, ada yang kaga mau juga. Pertama nebeng si Wildo, terus Ditha, terus gw dan Oyon terakhir reptil (rekep tilu) sama si abang tukang kebon. Meeting point kita di poskamling sebelum Pintu Rimba. Jalan dari Poskamling ke Pintu Rimba berbatu, sedikit landai. Sampai di Pintu Rimba jam 09.45 WIB.

Pintu Rimba - Pos 1 (10.00 - 10.40 WIB)

Di Pintu Rimba terdapat pos yang gak ada isinya, bak air, tempat duduk semen, sama prasasti Ekspedisi Bukit Barisan TNI-AD. Sekelilingnya masih pohon-pohon pendek, kerapatannya kecil. Hutan hujan tropis udah mulai menghiasi di sepanjang jalan ke Pos 1. Jalannya masih landai, belom nanjak. Jam 10.40 WIB kita sampe di Pos 1 dan istirahat sebentar buat minum.

Pintu Rimba (Ekaputri, 2013)
Prasasti ekspedisi bukit barisan (Ekaputri, 2013)
Bagaya stek (Ekaputri, 2013)
Pos 1 – Pos 2 (10.55 – 11.30 WIB)

Ketinggian Pos 1 adalah 1800 mdpl. Ada tempat peristirahatan tempat duduk semen letter U di sini. Sekelilingnya hutan hujan tropis dan banyak burung-burung berkicau. Bakal banyak ditemuin pohon-pohon tumbang di track menuju Pos 2, dengan jalan berundak-undak tapi gak terlalu tinggi setiap undakannya. Sampai di Pos 2 jam 11.30 WIB lalu kasih kabar ke bokap.


Pos 1 (Ekaputri, 2013)
Porter Oyon kecapean (Ekaputri, 2013)
Pos 2 – Pos 3 (12.30 – 13.30 WIB)

Kita istirahat di Pos 2 agak lama, sekitar 1 jam buat makan dan minum. Di pos ini cuma ada tanah datar tanpa tempat duduk. Ketemu juga sama anak Mapala Unand yang juga berhenti buat makan siang. Disini ketinggiannya 1900 mdpl. Harusnya ada sumber air tapi kali ini airnya lagi kering. Persediaan minum kita masih banyak, kira-kira 5,5 botol aqua 1,5 lt dan 1 botol pocary sweat 1,5 lt. Brunch kita bikin mie, kentang goreng, dan minum milo. Selama makan kita ketemu beberapa pendaki yang baru turun. Mereka bilang di atas masih banyak orang, 3 rombongan. Sebelum tancap ke Pos 3 kita foto-foto dulu pake tripodnya si fotografer Wildo lalu cabut duluan. Track ke Pos 3 lumayan panjang dan berundak plus sedikit bonus. Di jalan kita bakal ketemu saudaranya Wildo (siamang) yang bergelantungan di pohon. Lalu jam 13.30 WIB akhirnya kita sampe di Pos 3 uyeah! Langsung ngabarin bokap lagi.

Karena masih kemarau, sumber air di Pos 2 kering (Ekaputri, 2013)
Isi bensin dulu (Ekaputri, 2013)
Sebelum lanjut jalan ke Pos 3 (Selftimer, 2013)
Pos 3 – Shelter 1 (13.45 – 15.00 WIB)

Pos 3 ini kita udah di ketinggian 2000 mdpl. Wildo udah mulai gak sabar soalnya setiap berhenti cuma naik 100 meter, masih ada 1805 meter lagi hahaha. Setelah 15 menit istirahat dan minum, perjalanan dilanjutin lagi. Track dari Pos 3 ke Shelter 1 ini panjang dan nanjak. Tanjakannya berupa tanah lembek. Di tengah jalan kita nemu pohon bolong yang mengerikan. Gw pun yang sebelumnya udah spoiler ke Ditha tentang pohon angker ini langsung kasih kode ke dia, tapi dianya kagak ngerti. Sebetulnya bentuk pohonnya unik dengan batang besar dan bolongnya gede kaya terowongan gitu tapi berhubung angker jadi pengen cepet-cepet lewatin itu. Disitu juga katanya gak boleh foto-foto, pokoknya lanjut aja jalan dah. Sepanjang jalan ini kita masih disuguhi nyanyian burung yang merdu dan ceria. Sampai di Shelter 1 waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB dan langsung ngabarin bokap lagi (aduh maklum ya gak punya patjar [info gak penting sih sebenernya]) mumpung sinyal Telkomsel masih ketangkep disini.


Pos 3 (Ekaputri, 2013)

Kondisi jalur pendakian sampe Shelter 2 masih hutan belantara (Ekaputri, 2013)
Shelter 1 - Shelter 2 (15.30  - 20.00 WIB)

Di Shelter 1 kita bakal nemuin rangka besi. Disini pendaki udah boleh mendirikan tenda buat istirahat karena udah lewat dari area satwa liar. Dengan ketinggian 2500 mdpl, semilir angin yang berhembus udah mulai dingin tea. Pas kita dateng agak-agak berkabut gitu. Lalu kita masak buat makan siang dengan menu nasi, chicken nugget, rendang (bikinan mama Oyon), dan kentang dengan diiringi lagu dari Om Eddie Vedder. Waktu masak, matahari muncul lagi dengan girangnya. Sampai sini kita belum ketemu view epik yang bisa dinikmati soalnya sekeliling masih hutan hujan tropis. Oyon nyari sumber air tapi gak nemu.

Shelter 1 (Ekaputri, 2013)
Makan siang di Shelter 1 yang mendadak cerah (Nurhadi, 2013)
Menu makan siang kita (Ekaputri, 2013)
Beres makan kita langsung lanjut jalan ke Shelter 2. Target sih bisa nge-camp di Shelter 3 jadi kita (masih) semangat bisa sampe disana sebelum kemaleman. Kondisi medan menuju Shelter 2 sangaaaaat panjang tak berujung. Gw sempet ngeliat semacam plank “Shelter 2” namun itu hanyalah ilusi, ternyata hanya dedaunan di dahan pohon, hiks. Kita berhenti lama di tengah perjalanan soalnya si Ditha sibuk teleponan dan whatsapp-an ngomongin hal penting orang kantoran: gajian (sinyal Telkomsel masih dapet loh). Waktu berhenti ini kita ketemu sekitar 10 orang pendaki yang mau turun. Mereka bilang di atas masih ada rombongan bule dan sumber air habis. OMG kita dalam bahaya! Karena kita pikir bawa cadangan air lebih, selama jalan kita banyak ngabisin airrr.

Track menuju Shelter 2 ini cukup berat sob. Jalannya berbatu besar dan berlumut jadi rawan kepeleset, dengan elevasi sekitar 30°. Vegetasinya berupa pohon tinggi juga sejenis tumbuhan paku. Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, di sebelah kiri jurang dan ketika ada space yang gak ketutup pohon, akhirnya nemu pemandangan baguus!! (Di Kerinci kita diajarin sabar untuk dapet "bayaran" view yang sebanding dengan capeknya). Dari sini kita bisa liat sisi lain Gunung Kerinci berupa hutan cerah yang ketutup kabut. Woooow dan gw pun takjub (si Ditha yang udah pernah ke Semeru dan Rinjani mah nganggep pemandangannya biasa aja). 


Akhirnyaaa pemandangan bagooos (Ekaputri, 2013)
Hari pun mulai gelap dan kita udah mulai kecapean. Jam 18.30 WIB kita berhenti sebentar karena memasuki waktu Maghrib setelah itu lanjut lagi. Kondisi kita saat itu bener-bener capek tapi Shelter 2 belum juga nongol. Oyon pun berkali-kali bilang “bentar lagi nyampe” dan Alhamdulillah jam 20.00 WIB kita sampe juga di Shelter 2 yang berketinggian 3000 mdpl. Vegetasinya mulai pendek berupa pepohonan cantigi. Karena kondisi yang gak memungkinkan untuk ke Shelter 3, kita putusin buat nge-camp disini aja.


Beginilah kondisi medan menuju Shelter 2 (Ekaputri, 2013)
Penghujung jalan menuju Shelter 2 (Ekaputri, 2013)
Dan inilah Shelter 2 (Ekaputri, 2013)
Vegetasi di sekitar Shelter 2 (Ekaputri, 2013)
Setelah nemu space yang cocok, Oyon sama Ditha langsung bikin tenda. Gw sama Wildo langsung nyalain trangia buat masak nasi. Selagi nunggu nasinya mateng dan tenda jadi, Wildo sama gw cari sumber air karena persediaan air kita udah menipis banget. Anak Unand yang sama kecapean juga nge-camp disini. Gw dan Wildo nerobos pohon-pohon dengan penerangan 1 headlamp dan 1 senter. Gak keliatan opo-opooo, gelaaaap. Ke bawah gak nemu air, kita puter balik ke atas. Terus si Wildo nemu wajan berisi air. Pas dicium, eh airnya bau banget. Akhirnya kita kembali ke tenda dengan tangan kosong. Mudah-mudahan besok pagi di Shelter 3 nemu cadangan air.

Tenda jadi dan seluruh barang bawaan dimasukin. Menu makan malem adalah nasi, rendang, kentang, chicken nugget, dan sayuran berbau aneh yang bikin batuk-batuk bikinan Oyon. Air untuk minum sengaja dihemat karena persediaan kita cuma tinggal 3 botol aqua + setengah botol pocary sweat. Setelah ganti baju dan buang air, jam 21.30 WIB kita langsung tidur demi summit attack subuh nanti.

Expense #5: Sarapan lontong padang 5.000 IDR
Total Expense #5: 5.000 IDR

Sabtu, 31 Agustus 2013

Shelter 2 – Shelter 3 – Shelter 2 [Part 1] (03.30 - 06.00 WIB)

Alarm berkumandang dari jam 2 subuh tapi gak ada yang ikhlas bangun soalnya dingiiiin banget nget nget nget sob. Di luar sana ada suara semacam ombak tapi dari atas, entah apa. Jam 03.00 WIB berkat alarm yang nyala terus akhirnya gw pun bangunin Oyon lalu akhirnya semua bangun tapi tetep diem di dalem sleeping bag masing-masing. Saat-saat ini adalah saat yang paling butuh niat gede, untuk keluar dari sleeping bag dan untuk segera jalan ke puncak. Sempet terjadi kegalauan soalnya Ditha gak mau ikut ke puncak dan pengen jaga tenda aja. Berhubung kita semua udah perjanjian ke Dayat “muncak 1 muncak semua, gak muncak 1 gak muncak semua” jadinya kita pun kembali meringkuk dalem sleeping bag.

Setelah bujuk rayu sedemikian rupa, akhirnya Ditha pun mau ikut dan semua pun langsung segera keluar dari sleeping bag masing-masing. Siapin logistik yang diperluin, obat-obatan, makanan, jas hujan, lalu dimasukin ke daypack si Ditha (Berguna juga si 28), yang lainnya ditinggal dalem tenda. Fotografer Wildo gak lupa bawa tripod. Kita bergiliran ganti baju dan pas gw sama Ditha di luar dinginnyaaaa book. Setelah berdoa dan siap, kita pun melanjutkan perjalanan ke Shelter 3 jam 03.30 WIB. Udara sangat dingin banget sekali. Suara ombak tahvava dari atas masih ada.

Perjalanan ke Shelter 3 ini sungguh hardcore. Elevasinya sekitar 60°. Jalurnya berupa aliran untuk air kalo musim hujan, dan bebatuan dengan ketinggian bisa mencapai 2 meter. Kita manjat di pinggirannya dan bergelantungan jika perlu. Untuuuung aja ngecamp di Shelter 2. Kutaksanggup kalo kemaren mesti bawa carrier ke Shelter 3. Di ¼ perjalanan, hujan rintik turun. Gw malah ngerasa saking dinginnya rintik hujan yang turun macem butiran es. Bentar-bentar kita berhenti mengistirahatkan diri. Di 7/8 perjalanan menuju Shelter 3 suara ombak (yang ternyata suara angin) makin kenceng. Kita semua berhenti buat istirahat. Ditha ragu buat ngelanjutin perjalanan mengingat hujan rintik disertai angin kencang dengan suaranya yang menyeramkan. Seseringnya Oyon naik Kerinci, dia juga gak pernah dapet kondisi cuaca kayak gitu. 

Setelah proses bertimbangan yang lama, kita memutuskan untuk balik lagi ke camp soalnya kalo lanjut riskan banget. Kata Oyon nanti agak pagian kita balik lagi ke atas sambil nunggu cuaca bersahabat. Di jalan balik ke Shelter 2, Ditha dan Wildo yang jalan di depan sempet liat sekelebat mata kucing (horor kalo itu Tuo Daheak). Waktu Oyon cek gak ada apa-apa . Kondisi hari masih gelap dan sunrise bakal kita nikmati cukup dari Shelter 2. Akhirnya jam 06.00 WIB nyampe Shelter 2 kita enjoy dan foto-foto sunrise yang cantik. Dari sini hamparan awan menghiasi sejauh mata memandang jadinya pemandangan ke bawah cuma sesekali keliatan. Lalu setelah bosen satu persatu masuk ke tenda buat tidur lagi.


Inilah medan hardcore yang gw maksud (Putra, 2013)
Sunrise dari Shelter 2 (Ekaputri, 2013)
Bisa ada gap gitu ya (Ekaputri, 2013)
Tuh ketutup kabut. Itu puncak? Bukan, tipu-tipu tuh. Puncak masih di baliknya lagi di baliknya lagi (Ekaputri, 2013)
Shelter 2 – Shelter 3 – Shelter 2 [Part 2] (11.30 - 14.30 WIB)

Jam 10.00 WIB kita bangun dan gw nagih janji ke Oyon. Gw sama Wildo yang perdana ke Kerinci masih penasaran buat lanjut ke atas, at least sampe Shelter 3. Berhubung Ditha bener-bener gak mau lanjut, jadinya kepaksa deh kita ninggalin dia jaga tenda dan pergi bertiga doang. Rombongan Mapala Unand juga gak ada tanda-tanda bakal muncak jadi kita berani ninggalin si Ditha di camp dan ngelanggar perjanjian sama Dayat hehe (ampun yat). Setelah makan (menu masih kaya sebelumnya), jam 11.30 WIB kita berangkat lagi menuju Shelter 3. Kali ini cuaca beda jauh sama tadi pagi walaupun anginnya masih semeliwir. Jam 13.00 WIB kita sampe di atas dan senaaaaaang sekali. Pemandangannya bagus banget!!! Oyon langsung menghilang nyari sumber air. Gw sama Wildo masih euforia takjub dan foto-foto di ketinggian 3300 mdpl. Kondisi vegetasi adanya hanya cantigi yang pendek, udah terbuka banget.

Liat, kabut semuah (Ekaputri, 2013)
This is it tanah Kerinci. Ada danau kecil di tengah hutan, bukan Danau Gunung Tujuh tapi, entah apa [kanan] (Ekaputri, 2013)
Jalan cadas menuju puncak yang ketutup kabut tebel. Ini lagi hoki pas (akhirnya) keliatan (Ekaputri, 2013)
Kabut di Shelter 3 tebel loh kita hampir jarang bisa liat pemandangan di bawah sana. Kemungkinan buat lanjut jalan ke puncak nol besar karena kabut tebal ini. Oyon pun dateng bawa persediaan air, horeeeee!!! Terus kita jalan ke atas dikit buat liat yang mana sih batu cadas itu dan ternyataaa ketutupan kabut, sip. Buyuang Wildo mulai gak enak badan. Setelah puas foto-foto haha-hihi, kita balik lagi menuju Shelter 2 jam 14.00 WIB. Di tengah jalan kita ketemu rombongan Mapala Unand yang menuju Shelter 3. Wah gw langsung kepikiran si Ditha di camp sendirian. Kita langsung buru-buru turun tapi tiba-tiba abang fotografer jackpot (baca: muntah). Berpuluh-puluh kali doi naik gunung, baru kali itu doi jackpot. Mungkin karena masuk kebanyakan angin. Finally jam 14.30 WIB kita udah sampe lagi di Shelter 2. Setelah itu kita langsung beberes buat segera turun dan ngecamp lagi di Shelter 1 karena prediksi nyampe sana jam 18.00 WIB disaat hari udah gelap.

Shelter 2 – Shelter 1 (16.00 – 18.00 WIB)

Setelah berdoa segala macem, kita berangkat turun jam 16.00 WIB. Untungnya persediaan air udah bertambah jadi kita masih bisa bertahan hidup untuk nambah 1 hari lagi di Kerinci. Perjalanan pulang gak kerasa capek karena kita jalan sambil ngobrol, tiba-tiba jam 18.00 WIB udah sampe aja di Shelter 1. Oyon dan Ditha langsung ngediriin tenda, gw dan Wildo bikin nutrigel (Wildo ngebet banget). Setelah tenda jadi kita langsung beberes dan gw lanjut masak nasi serta lauk pauknya. Perut kenyang hati senang, kita semua pun tidur.

Minggu, 1 September 2013

Shelter 1 – Kersik Tuo (09.30 – 12.15 WIB)

Kali ini hujan turun semaleman. Jam 07.00 WIB kita bangun lalu menyegarkan badan. Jam 09.30an WIB kita udah siap buat pulang, tentunya setelah makan. Di perjalanan pulang kita ketemu bule yang sepertinya seorang peneliti sama uni2 guardnya. Banyak ketemu rombongan yang mau naik juga, bahkan ada rombongan ibu-ibu penduduk sekitaran Kerinci yang mau kemping sama anak-anak dan suami mereka. Strong mamas!!

Jam 11.15 WIB kita udah sampe lagi di Pintu Rimba. Cepet yah bo kalo turun. Kita istirahat sebentar di poskamling lalu lanjut jalan lagi. Gak lama kita jalan di sekitaran ladang penduduk, akhirnya ada mobil pick-up penduduk lewat dan kita nebeeeng sampe Tugu Macan dan wajib foto-foto dulu. Lalu kita ambil barang yang dititipin di tempat Emak. Beliau khawatir sama kita yang pulangnya lama soalnya beliau bilang di kaki gunung hujan terus selama kita naik. Mahaha emang beneran cuaca lagi gak bersahabat dengan kita. Setelah itu kita ke masjid buat bersihin diri, lanjut nyari merchandise tapi tokonya gak ada yang buka (hari Minggu), lanjut beli oleh-oleh. Mengingat jadwal turun gunung yang mundur 2 hari dari rencana dan Oyon Wildo harus kuliah Ditha juga harus kerja, akhirnya kita memutuskan untuk batal lanjut ke Danau Gunung Tujuh dan kembali ke tujuan masing-masing hiks.



Rawwwwrs (Selftimer, 2013)
Pohon merah di sekitaran Kerinci (Ekaputri, 2013)
Nebengers (Ekaputri, 2013)
Full team (Selftimer, 2013)
Pulang

Nah, tujuan perjalanan kita selanjutnya beda nih. Gw ke Sungai Penuh dulu pulang kampung nengok nenek dan handai taulan sekalian lanjut liburan, Oyon pulang ke Padang Aro, sedangkan Ditha Wildo ke Padang. Gw cukup hoki gampang dapet transport angkot putih yang lewat Kersik Tuo dan sampe depan rumah nenek gw di Sungai Penuh bayarnya 10.000 IDR. Ditha Oyon Wildo ke Padang bakal naik travel tembak namun sayang sekali mereka gak hoki karena ternyata sampe jam 16.00 WIB gak ada  yang lewat samsek . Akhirnya mereka naik angkot putih ke simpang Gunung Tujuh lalu dari sana naik damri perbatasan sampai Padang Aro. Dari Padang Aro pake travel tembak ke Kota Padang.

Expenses #6: Oleh-oleh dan beli minuman 20.000 IDR, Angkot ke Sungai Penuh 10.000 IDR, Angkot ke simpang Gunung Tujuh 5.000 IDR, Damri perbatasan 5.000 IDR, Travel tembak 60.000 IDR
Total Expense #6: 30.000 IDR (Gw), 10.000 IDR (Oyon), 80.000 IDR (Ditha & Wildo)

Senin, 2 September 2013

Ditha & Wildo sampe lagi di Padang jam 02.30 WIB karena kejebak macet di Sitinjau Lauik. Mereka istirahat sebentar di rumah Wildo sampe jam 5an, setelah itu langsung ke bandara. Ditha beli tiket pesawat Citilink Padang - Cengkareng saat itu juga dan kena 900.000an IDR plus beli lewat calo. Kenapa gak beli tiket pesawat sekalian sebelum berangkat? Soalnya kita sendiri gak bisa kasih estimasi kapan exactly kita akan pulang dan sampe lagi di Padang. Jadi nih saran buat temen-temen yang mau ke Kerinci, luangkan seenggaknya waktu seminggu buat pendakian + jaga-jaga. Waktu ideal buat naik-turun Kerinci sih 2 hari 1 malem. Cuma kalo kondisi cuaca disana gak bersahabat kaya kita kemaren (plus pesawat Ditha delay), temen-temen bisa nambah semalem-dua malem buat nunggu cuaca cerah lagi atau banting setir sekalian ganti destinasi ke Gunung Tujuh, Singgalang, Tandike, Marapi, atau Talang. Hehe... Yang pasti cuaca Kerinci ini memang sulit ditebak sobs. 

Nah gw sendiri beli tiket pesawat Padang - Cengkareng tanggal 5 untuk penerbangan hari Minggu, 08-09-13 pake Citilink. Tanggal 6 gw berangkat dari Sungai Penuh - Padang  naik PO Sahabat Kerinci Wisata lagi (yang ternyata poolnya tepat di sebrang rumah nenek gw) 110.000 IDR. Sampe di Padang jam 16.00 WIB, Sabtunya gw jalan-jalan dulu ke Bukit Tinggi sama si Wildo (ide ini ngedadak gara-gara waktu di Kerinci ketemu pendaki yang berencana keliling minang setelah turun Kerinci, dan gw mupeng haha [resume tentang ini nyusul tapi gak janji]). Gw sampe di Cengkareng hari Senin jam 00.30 WIB (pesawat delay -..-'). Pulang ke rumah naik travel Pasundan (travel lain sudah tutuup) point to point 150.000 IDR lewat calo. Daaan sampailah gw di rumah pukul 03.00 WIB lalu bangun siang dan kepaksa bolos kuliah genap jadi 2 minggu hahahaa...

Expense #7: Citilink (02-09-13) 900.000 IDR, Travel Sungai Penuh - Padang 110.000 IDR, Citilink (08-09-13) 780.500 IDR, Travel pasundan 150.000 IDR
Total Expense #7: 900.000 IDR (Ditha), 1.040.500 IDR (Gw)

TOTAL (ALL) EXPENSES
Total pengeluaran ini dari Bandung ke Bandung lagi dikurangi pengeluaran selama di Batam, transport dari dan ke Sungai Penuh, dan pake harga tiket pesawat ke Padang punya Ditha ya.. 
2.042.500 IDR

Pendakian ke Kerinci ini buat yang berdomisili di Jawa emang membutuhkan biaya yang gak sedikit, terutama untuk transportasi. Kalo mau cepet dan hemat energi tapi gak hemat duit ya naik pesawat, kalo mau selow dan hemat duit tapi gak hemat energi bisa pula naik bus. Tergantung enaknya temen-temen gimana. Pemandangan Kerinci selama pendakian mungkin kurang kebayar kayak Semeru atau Rinjani karena hutan melulu, tapi ketika kita udah sampe Shelter 2 Shelter 3, semua lelah akan terbayar, lunas! Apalagi kalo udah sampe puncaaaak bro.. Kita bisa liat Danau Gunung Tujuh bahkan Samudera Hindia dari atas sana. Cool!! Daaaan gw masih punya hutang buat napakin kaki di puncak Kerinci. Kalo ada yang berencana kesana tahun depan, gw mau deh join. Heheh..

Gunung Tangkuban Parahu? (Nurhadi, 2013)

4 comments:

  1. Mbak hebat udah sampe puncak Kerinci,btw ada cerita apa sih ttg pohon yg tengahnya bolong n knp gak di anjurkan mendirikan tenda di shelter II Gunung Kerinci?thx

    ReplyDelete
  2. @anonymous: wah saya juga kurang tau cerita tepatnya, waktu itu dapet dr catper orang lain gitu di internet. dari situ diceritain kalo ada yang nunggu hehe. ngecamp di shelter II boleh aja kok mba/mas soalnya shelter 1 - 3 kan memang tempat ngecamp... btw saya belom sempat sampai puncak kok itu :(

    ReplyDelete
  3. Setelah sekian lama. 3 tahun pendakian kita. Baru ini gw baca. Ngakak2 sendiri sambi nginget moment-moment random itu. Semoga next trip kita hoki yah

    ReplyDelete