Sunday, August 24, 2014

Film Review: Fenster zum Sommer

Dalam tiga hari ini, Goethe Institut Indonesia menyelenggarai Festival Film German Cinema yang diadakan di beberapa kota besar yaitu Banda Aceh, Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar, Makassar, Palu, dan Balikpapan. Seperti tahun sebelumnya, film-film ini bisa ditonton di bioskop yang udah ditentukan tanpa pungutan biaya a.k.a gratisch! Keseluruhan acara ini berlangsung dari 22-31 Agustus 2014 dan Bandung dapet giliran dari 23-25 Agustus 2014 di XXI Ciwalk. Jumlah seluruhnya ada 14 Film tapi hanya 9 yang bisa diputer di Bandung.

So, sepulang les gw dan beberapa teman Deutschkurs tancap gas ke Ciwalk untuk nonton film (film) itu. Film pertama yang gue tonton adalah Fenster zum Sommer atau dalam Bahasa Inggris berarti Summer Window. Alkisah, ada seorang cewe bernama Juliane yang pergi road trip ke kampung halamannya di Finlandia sama pacar barunya, August (well nama mereka kaya nama bulan, berarti ulang tahunnya cuma kepaut 1 bulan #loh). Si Juliane ini blasteran, ibunya orang Jerman sedangkan bapaknya orang Finlandia dan dia kerja sebagai translator di suatu Firma di Berlin sana.

Di suatu malam pelepas penat dari perjalanan jauh itu, Juliane bobo-bobo-an sama August sembari mengingat kembali gimana ceritanya mereka ketemu. Bukan cerita awal yang happy karena pertemuan mereka ternyata diiringi kematian sahabatnya, Emily. Digambarkan bahwa tiga bulan sebelum itu, bulan Mei, dia ada janji ketemu sama Emily. Sebelum ketemu Emily dia tanpa sengaja "ketemu" sama August. Namun apa yang terjadi, right before Juliane and Emily met each other, Emily dapet combo ketabrak mobil + truk di depan mata Juliane dan kemudian meninggal di tempat. Nah peristiwa inilah yang bikin cintanya Juliane dan August bersemi (well it literally happened in Spring). Mungkin ada perasaan berkecamuk dalam hati Juliane. Di satu sisi dia ketemu dengan soulmate nya tapi di sisi lain dia harus kehilangan sahabatnya. Perasaan inilah yang (mungkin) bikin dia kebangun besok paginya tapi dengan alur waktu mundur 6 bulan.

Awalnya Juliane bingung bangun tidur dan dia dalam situasi masih pacaran dengan mantannya, Phillip, and there Emily still alive. Lama kelamaan dia sadar kalo dia hidup di kehidupannya 6 bulan yang lalu dengan kondisi kesadaran dia ada di kondisi nyata. Cinta ke Phillip udah kagak punya, tapi dia seneng juga Emily masih hidup. Juliane stress dan Phillip mulai ngerasain perubahan darinya. Apa mau dikata, dengan punya pikiran "pada kondisi masa depan" yang udah gak cinta sama Phillip, akhirnya hubungan mereka yang udah beranjak 9 tahun itu harus kandas. Selain itu mereka juga punya visi hidup yang berbeda. Phillip ingin punya anak sedangkan Juliane gak mau.

Well this Film talks about destiny. Juliane pengen ngubah destiny supaya Emily bisa tetep hidup tapi dia juga tetep bisa ketemu August. Segala cara dia lakuin, termasuk kirim surat ke August dimana dia cerita tentang masa depan mereka. Sayang seribu sayang, usaha dia setengah berhasil tapi setengahnya lagi gagal. Gagal soalnya yang baca surat pacar si August (pada saat itu) lalu dia berhasil ketemu August tapi cuma one night stand doang gitu. Setelah itu, atas saran Emily's Son, Otto (7 yo und Emily is single mother), Juliane mau bikin semuanya terjadi exactly the same. Dia dateng ke kantor di jam yang sama, makan pake piring yang sama dengan sebelumnya, menunya juga sama, dan sampe-sampe kemudian dia blackout. Stress keleus.

Setelah sembuh dia ngejalanin hari senatural mungkin hingga kejadian deh tuh dimana Emily ngajak dia ketemuan (vielleicht zu plauden) yang mana itu kejadian sama kayak Emily mau ketabrak. Juliane ingin cegah itu lalu dia kejar Emily biar jangan sampe ketabrak. Hampir sama dengan kejadian sebelumnya, di dalen Tram dia ketemu sama August yang ternyata juga nyariin dia, tapi dia gak waro dan lebih mentingin Emily. Lalu Alhamdulillah akhirnya Emily selamat dari kejadian naas. Juliane seneng banget dia bisa cegah kematian Emily dan ngerayain itu dengan ngewine bareng ampe mabok (kondisi Emily gak tau).

Besoknya, ketika baru sampe kantor setelah nganter Otto sekolah, Juliane dapet kabar buruk. Emily hat gestorben. Dia meninggal. Shock sih, terlebih gue iba ngeliat Otto yang nungguin emaknya jemput di sekolah tapi gak juga dateng. Untuk anak sekecil Otto, dia amat sangat tegar ngadepin itu. Selain itu dia juga selbständig. Ah ngefans! Akhirnya, (kalo ga salah) di hari yang sama dengan kenyataan sebelumnya, Juliane mudik ke Finlandia bareng Otto naek kapal. AND GUESS WHAT! Di kapal itu dia akhirnya ketemu lagi sama August lalu mereka mulai semuanya dari awal lagi.

Well, moral of the story, yang namanya destiny gak bakal mungkin kita ubah namun cara atau kejadian menuju si destiny itulah yang relatif. Qadar dan Qadha. Kematian, rejeki, jodoh, itu semua udah ditentuin sama Allah. Namun bagaimanakah kita menghadapinya, in my humble and sotoy opinion , itulah Qadha. Maksudnya, Allah udah menetapkan kapan kita bakal meninggal, rejeki kita seberapa, atau siapa jodoh kita. Tapi, bagaimana kita berusaha jalanin hidup dengan sebaik mungkin dan sehati-hati mungkin menjaga apa yang sudah Allah kasih, gimana kita berusaha bekerja sebaik mungkin, atau dengan kejadian gimana kita bakal ketemu jodoh kita, itu semua bakal relatif. Soalnya gak bakal ada 1 jarum pun yang jatuh kecuali atas izin Allah. Inget pula bahwa Allah gak bakal ngubah nasih suatu kaum kecuali jika mereka berusaha.

Dari cerita itu, Juliane tetep ngadepin destiny dia dan Emily hanya aja dengan kejadian yang baru ini ga ada alesan buat Juliane ngerasa bersalah kaya sebelumnya. Overall, film ini bagus banget gw suka. Setau gw banyak sih film-film yang cerita tentang destiny atau lorong waktu gitu, cuma pelajaran dari film ini tuh bisa ditangkap dan logisch jika dibandingkan film lain. Sinematografinya juga bagus, hanya aja ada beberapa kesalahan teknis pas awal-awal pemutaran film, misalnya suara film gak muncul dan ngaderedet.

Well besok (eh sekarang udah besok) gue dan teman temin mau nonton lagi mumpung gratisch hahaha. Kalo memunkinkan, gw bakal nonton 2 pelem langsung, hehe.

No comments:

Post a Comment