Sunday, September 7, 2014

Profesi ideal, apa benar ideal?

Setiap anak punya profesi idaman yang ingin ia raih ketika sudah dewasa nanti. Seiring berjalannya waktu, profesi ini semakin spesifik dan realistis, serta sesuai dengan idealisme dan passionnya.

Katakanlah seseorang ingin menjalani profesi A karena ia ingin bisa menabung amal, terus berpikir, menebar & mengembangkan ilmu, punya lingkungan kerja yang dinamis, serta punya waktu yang fleksibel sehingga ia masih ada waktu untuk diri sendiri & keluarganya kelak. Benarkah begitu?

Pada prosesnya membangun karir tersebut, ia justru merasa kenyataannya gak demikian. Lingkungan kerja yang dinamis? Ya, terlalu dinamis bahkan. Punya waktu untuk diri sendiri? Hmmm jatah waktu tidurnya pun malah berkurang karena harus menyelesaikan pekerjaan yang kadang-kadang harus dibawa pulang ke rumah. Ideal?

Profesi lain yang tadinya terlihat jauh dari idealismenya justru malah terasa ideal. Masuk jam sekian, pulang jam sekian. Di luar itu gak ada lagi urusan kantor. Kalau ada beban kerja berlebih ya dapat tambahan upah. Well bukan masalah upah pula sih.

Namun, orang bijak bilang kalau itu semua hanyalah proses yang harus dilewati buat lolos ke level selajutnya. Memang demikian, katanya. Ketika profesi itu udah diraih, ia bisa lebih fleksibel mengatur waktunya. Ini hanya proses dan pasti akan terlewati. Yakini.

Bakal ada waktunya suatu hari nanti ia pergi bekerja di pagi hari, menabung amal & menebar ilmu, menjemput anak siang harinya, sore udah santai di rumah menunggu suami pulang. Ketika anak-anak di tempat kerjanya libur ia bisa menikmati waktu liburnya pula dengan keluarga. Ada saatnya. Pasti.

No comments:

Post a Comment