Friday, February 27, 2015

Memulai hidup baru

Setiap orang pasti punya fase kehidupannya masing-masing. Buat nerima tantangan hidup yang lebih berat, biasanya setiap orang akan keluar dari habitat asalnya untuk menetap dalam jangka waktu yang lama di habitat yang baru. Misalnya, entah itu untuk pergi menuntut ilmu, mencari nafkah, atau untuk tingkatan yang paling tinggi: menikah. Semua bisa dibilang "memulai hidup baru". 

Berkali-kali gue ngadepin situasi kayak gini, tapi bukan sebagai pelaku. Gue hanya penonton. Si A pergi ke negara mana buat menuntut ilmu lah. Si B yang hijrah ke kota mana buat kerja lah. Si C yang sebenernya gak kemana-mana tapi waktunya sangat terbatas mendekati nihil karena ada kewajiban lain untuk keluarga barunya lah. Dan lain-lain. Semua terjadi silih berganti di sekeliling gue, dan gue hanya duduk makan popcorn di singgasana kesayangan.

Karena gue gak pernah kemana-mana.

Well, terlahir di kota Bandung, tumbuh di kota yang sama, beranjak dewasa di situ juga, kuliah masih aja di kota itu, dan sampai saat ini gue belum pernah ninggalin kota ini lebih dari satu bulan. Gak pernah. Sama sekali. Bukan berarti gue males kemana-mana loh. Keinginan buat pergi dari kota ini amatlah bergejolak karena biar gimana juga gue terlahir dari darah kaum perantau. Cuma saatnya belum ada.

Dalam setahun, bisa jadi lebih dari 5x gue harus "menonton" orang-orang dekat yang tadinya ada di sekitar gue pergi buat menghadapi fase baru hidup mereka, keluar dari kota ini. Walaupun susah payah gue nampak seneng dan supportive, sebenernya ada air mata yang jatuh. Ada semacam ketidakrelaan ditinggal sama mereka. Ada semacam perasaan rindu yang terlalu cepet datengnya. Dan setiap kali itu kejadian, gue selalu bertanya-tanya "kapan ya giliran gue? Ada gak ya, fase baru dalem hidup gue? Sanggup gak ya gue ninggalin orang-orang yang gue sayang demi ngejalanin fase baru hidup gue?"

Ah, gue jadi penasaran waktu itu dateng. Memulai hidup baru di fase hidup yang lebih tinggi, ke tempat yang baru. Hmm kalo mulai hidup baru sama kamu kapan? #ngomongsamatembok

No comments:

Post a Comment