Wednesday, February 4, 2015

Tepok Jidat

Siang itu cuaca di Bandung sangat panas. Lalu lintas sekitar kampus macet karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kebun Binatang Bandung. Ryanda, seorang mahasiswa kampus Institut Teknologi Bandung mendecak kesal di dalam mobil yang ia kendarai.


“Ck! Duh, macetnya ampe kapan sih nih? Gue udah janji ama Pak Tresno bakal tepat waktu nih. Masih keburu gak, ya?” ia merutuk.


Tiba-tiba keberuntungan datang padanya. Lalu lintas kembali lancar setelah melewati kawasan Kebun Binatang. Setibanya di kampus, Ryanda memarkir mobilnya kemudian ia langsung menuju ruangan Pak Tresno di Gedung Labtek X. Di jalan menuju Labtek, Ryanda disapa oleh rekan sesama unitnya.

“Hai Ri. Lo udah tau kan nanti sore jam 4 ada oprec Badan Pengurus unit kita?” tanya Beni. 
“Hah?! Emang sekarang, ya? Bukan Minggu besok?” Ryanda kaget. 
“Gak jadi. Kata paketu sih lebih cepat lebih baik. Sekalian dia mau ngebahas proker yang kita bikin tempo hari. Ada apa nih lo ke kampus siang bolong gini?” Beni menjelaskan. 
“Ini gue ada tugas wawancara Pak Tresno soal pemekaran jurusan. Tugas Litbang KM.” kata Ryanda 
“Oh gitu. Ya udah ketemu ntar sore ya di selasar KL.” 
“Oke.”
Ryanda pun segera menuju Labtek X sebelum ada yang mengajak dia mengobrol lagi karena dia sudah telambat 15 menit dari janjinya dengan Pak Tresno. Peralatan seperti handycam dan notebook ia periksa lagi di tasnya kalau-kalau tertinggal di mobil.

Setelah kurang lebih 30 menit melakukan wawancara dan 10 menit diceramahi Pak Tresno tentang pentingnya untuk datang tepat waktu, akhirnya wawancara itu selesai juga. Ryanda mendapat kesimpulan bahwa sebenarnya para dosen kurang setuju adanya pemekaran jurusan di salah satu fakultas di kampus ITB. Walaupun hasil wawancara ini tidak akan merubah keadaan akan dimekarkannya jurusan di salah satu fakultas, setidaknya ia tahu apa pendapat dosen tentang hal itu.

Cuaca semakin panas. Matahari serasa di puncak kepala. Ingin rasanya Ryanda cepat pulang dan menyusun hasil wawancaranya menjadi sebuah film pendek untuk dipresentasikan pada Ketua Litbang KM di Senin pagi. Selagi menunggu jam 4, Ryanda pergi ke kantin untuk makan siang kemudian ia solat Ashar dilanjutkan dengan melihat kembali hasil wawancaranya sambil tersenyum puas.

Dalam kepalanya sudah banyak ide yang mengalir tentang bagaimana ia akan membuat film pendek tersebut menjadi sebuah karya yang tidak membosankan. Setelah semua selesai, ia akan tidur lebih cepat dari biasanya karena ia butuh istirahat setelah pulang kemping tadi pagi.

Menit berlalu dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 15.45. Segera saja Ryanda menuju selasar KL untuk mengikuti oprec Badan Pengurus harian unitnya. Setelah segala macam  pendaftaran anggota juga berbagai penjelasan dan perdebatan tentang program kerjanya, akhirnya kegiatan tersebut usai sudah.

Dengan tergesa-gesa Ryanda meninggalkan teman-temannya kemudian berjalan menuju gerbang depan dan segera naik kendaraan umum agar lekas sampai di rumah dan mengerjakan semua tugasnya sampai selesai kemudian tidur. Karena melewati jalan Dago, lalu lintas di Sabtu sore padat merayap. Sepanjang jalan Ryanda hanya membayangkan komputer dan tempat tidurnya di rumah. Belum lagi ada pertandingan Persib melawan Persija di televisi. Ia ingin lekas sampai rumah.

Cuaca yang tadinya panas kini berganti mendung. Tak lama kemudian hujan deras mengguyur kota Bandung. Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai gerbang komplek rumah Ryanda. Turun dari angkutan kota, Ryanda harus berjalan sekitar 100 meter dari gerbang komplek ke rumahnya padahal hujan turun sangat deras. Hari yang aneh. Padahal tadi siang panas sekali. Dengan kesal, sebisa mungkin ia menjaga tasnya agar tidak kena basah karena di dalamnya ada handycam.

Sesampainya di rumah, “Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam,” jawab ibu yang kebetulan sedang duduk di teras sambil melihat kembang-kembangnya yang tersiran air hujan. “Ya ampun kamu kok basah banget. Awas ya sepatunya jangan dipake ke dalem rumah, nanti Ibu susah pel nya, kamu jorok gitu.” ujar ibunya Ryanda.
“Iya, Bu.” jawab Ryanda.
Sambil mengawasi putranya masuk ke dalam rumah, ibu Ryanda merasa ada yang aneh dengan kedatangan Ryanda. Di dalam rumah, setelah mengeringkan diri dan duduk santai di ruang tivi, Ryanda menyapa ayahnya yang sedang menonton pertandingan bola.

“Siapa yang menang, Yah?” Ryanda mengambil pisang goreng dari piring yang ada di meja di sebelahnya. “Persib?”
“Belum, masih seri.” jawab ayahnya segera. “Kamu udah isi bensin, Ri? Kak Sita mau pake mobilnya tuh.”
Seketika itu juga Ryanda memuntahkan pisang goreng yang barusan dimakannya. Mobilnya masih di tempat parkir kampus!!



-----------------TAMAT-----------------


ps: 5 tahun kemudian, gw ngalamin kejadian serupa kaya si tokoh bikinan gw. Lupa ninggalin motor di tukang seblak RW sebelah, sadar-sadar pas 5 langkah mau nyampe rumah -_-
pss: cerpen ini tadinya berjudul "LUPA" tapi gw ganti karena ntar pasti bakal garing banget jadinya karena udah tau dari awal. ya emang garing sih tapi biar ga jadi garing banget-bangetan :))

No comments:

Post a Comment