Thursday, March 26, 2015

"My best" is still the best

This is about Vanessa Carlton, well, her songs, actually.

It's quite difficult to choose which one is the best of all, because she composed all of those brilliantly. Terutama di albumnya yang ketiga (Heroes and Thieves), semua lagunya ga ada yang ga enak. Album ini yang paling oke, seperti kata si Pece. Dan gue paling suka My Best karena dalem banget huhuhuks juga karena musiknya (tentu saja) enak. 

Well albumnya doih yang ke-5 bakal segera dirilis setelah sempet tertunda due to her pregnancy and she focused on her new born baby and became a full time mother. uuuuu sweet... gak sabar sampe album yang baru rilis. Kalok waktunya cociks bisa kali yes nitip ke si om ian. wakwakwak



Thursday, March 19, 2015

Dusun-dusun kecil di barat negri

Aseik (sok asik) gitu judulnya. Haha

Jadi semalem baru aja gw selesai baca bukunya Ayu Utami yang berjudul SAMAN. Buku ini sebagian besar mengisahkan tentang seorang anak laki-laki yang menghabiskan masa kecilnya di Pulau Sumatera bagian selatan, tepatnya di Prabumulih. Dia pindah ke kota kecil itu semenjak ayahnya ditugaskan untuk bekerja di sana. Nah selama dia tinggal di sana, hidupnya dihiasi dengan kisah-kisah "spiritual" nan menakutkan. Setelah itu dia sekeluarga pindah ke Jakarta. Ketika dia besar dan menjadi pastur, ia ingin mengabdikan diri di kota masa kecilnya. Maka ia kembali lagi ke Prabumulih buat jadi pelayan Tuhan di sana, sembari inget lagi kenangan-kenangan dia di bekas rumah yang dia tinggali. 

Nah tapi di sini gw ga bakal nyeritain isi buku ini. Hanya aja ada sepenggal bagian dari buku ini yang bikin gw inget sama pengalaman gw pribadi. Jadi, buku ini berlatar tempat di daerah-daerah di Sumatera Selatan, yang di dalamnya disebut juga daerah Komering. Apa yang mbak Ayu deskripsiin di buku ini bikin gw flashback ke pengalaman gw itu, terutama tentang keadaan penduduknya yang sebagian besar merupakan petani karet. 

Tahun 2014 lalu gw sempet dapet amanah buat jadi bagian dari tim analisis dampak lingkungan perusahaan X di Ogan Komering. Yang gw kerjain sebetulnya cuma ngitung slope beberapa titik lokasi. Di sana gw juga bantu-bantu semacam "survei" wawancara, datengin langsung penduduk di beberapa desa dan dusun, yang isi kuesionernya mostly tentang kehidupan sosial dan kesehatan mereka (berapa besar penghasilan, anak berapa, sekolah gak, kegiatan sama warga lain apa, dll). Daaan kondisi mereka itu persis banget sama yang diceritain di buku. Yang bikin ngenes, udah 2014, tapi kok kayanya kondisi gak berubah banyak ya?

Tempat gw survei itu kondisi fisiknya kering kerontang. Yang diliat kalo gak hutan sawit, hutan karet, jalan berpasir merah, tanah retak karena kering, atau pipa minyak. Ditambah pula sepi. Untuk mencapai setiap desa, kita mau gak mau harus lewatin hutan-hutan itu dulu, baru deh masuk ke daerah pemukiman. Itu juga paling setiap desa cuma terdiri dari 15 - 20an kepala keluarga. Belakang rumah mereka hutan karet atau sawit. Buat bisa nyampe ke sana kita harus naik jeep milik perusahaan karena kalo jalan kaki mungkin nyampenya bisa besoknya atau keburu pingsan karena dehidrasi.

Penduduknya sebagaian merupakan kaum transmigran dari Jawa, sebagian lagi asli dari sana. Mata pencaharian kepala keluarga bisa buruh perusahaan (minyak/sawit) atau petani karet. Istrinya rata-rata ibu rumah tangga tapi ada juga yang bantu-bantu sadap karet buat tambahan karena penghasilan mereka gak banyak. Jauuuuh di bawah UMR Bandung ya, apalagi UMR Jakarta. Ya sama uang kos-kosan mahasiswa masa kini juga jauh. Rata-rata pendidikan mereka sampai tamat SMA (untuk laki-laki) atau SMP (untuk perempuan), bahkan yang buta huruf pun masih ada karena gw sempet wawancara beberapa ibu yang gak bisa baca dan tulis. Penduduk sana, mereka semua kawin muda. Buat ngebedain status sosial mereka cukup mudah dengan liat tempat tinggalnya, apakah udah berlantai keramik, ubin, atau masih semen. Yang masih beralaskan pasir juga ada, satu rumah sama ayam-ayam mereka. Sedih ya. Yang lebih menyedihkan lagi, gw ngerasa sedih tapi gw gak bisa berbuat apa-apa. Duh banget. 

Duh.

Mungkin itu juga yang dirasain sama Wis di buku Saman makanya dia sampe segitunya berdedikasi mengubah nasib penduduk desa, walaupun ada juga motif lain, karena dia punya perasaan "aneh" ke Upi. Sebagai lulusan institut pertanian, Wis ngubah nasib mereka yang merupakan petani karet dengan ilmu tani yang dia punya. Aku yo opo tho? Ngajarin baca peta?  Penyuluhan tentang hak atas tanah? Teuing.

Ada yang menarik dari pengalaman gw itu. Di satu desa, proses wawancara ga begitu terkendala karena warganya welcome dengan kami, orang asing (kami se-tim hanya ber-4). Tapi ada juga nih di satu dusun dimana warganya sama sekali gak ramah dan penuh curiga. Mungkin karena karakter orang sebrang yang gak seramah orang-orang di Pulau Jawa. Atau mungkin seperti dalam buku? Mungkin mereka pernah kecewa dengan orang-orang asing seperti kami, mungkin pernah ada sengketa, mungkin ini dan mungkin itu lainnya. Bahkan sebelum sampai ke dusun ini, kami udah diwanti-wanti kades supaya bisa maklum dan jangan memaksa. Yah, mungkin persoalannya itu. 

Hutan di sana, kalo gw bilang, spooky. Embyer. Waktu gw ngukur slope di salah satu hutan karet, pengantar gak ikutan karena cuma ngedrop doang. Jadilah di sana gw berdua sama biologist yang tugasnya mencatat jenis flora dan fauna apa aja yang ada di sana. Lalu hujan turun. Kita teduhan sambil istirahat di semacam bangku dari bilik gitu. Depannya ada bekas api unggun yang masih ada asepnya padahal di sana gak ada siapa-siapa. ha. ha. Begitu hujan (yang cuma 10 menit) berhenti, kita balik lagi ke tempat gw ngukur, yang di bawahnya itu sungai kering. Waktu kita udah dijemput lagi, bapak supirnya nanya:

Pak supir (PS): gimana lancar?
Gw: lancar pak
Pengantar dari perusahaan (PP): hujan ya?
Biologist: hujan sebentar
PP: Sebenernya kalo hujan kita gak berani ninggalin. Soalnya suka ada harimau. Biasanya beres "makan", tulang-tulangnya dia tinggalin di sungai kering sana.
Gw: #palmface #laluketawagaring
Hutan sawitnya juga gak kalah spooky. Pokoknya hampir selama di hutan hawa-hawanya kagak enak dah. Walaupun emang gak ada kejadian gimana gitu sih.

Sebetulnya gw sangat suka jadi geodet. Pergi survei ke tempat-tempat baru di pelosok negri. Merhatiin kehidupan yang gak biasanya gw liat di habitat gw. Merhatiin karakter orang yang beda-beda secara spasial. Merasa beruntung karena bisa pake listrik semau gue. Merasa beruntung bisa sekolah tinggi-tinggi. Merasa enak bisa dapet hiburan apapun dan dimanapun gw mau. Tapi di sore itu, senyum terbit di ujung bibir gw ngeliat anak-anak perempuan mereka bahagia main bareng, mandi di sungai. Lalu gw mikir, berapa tahun lagi ya mereka bisa nikmatin ini sebelum mereka akhil baligh dan dinikahkan? 3? 4? hmm.. Yah, kebahagiaan bisa dibuat sendiri. 

Sore-sore mandi di sungai

Tanah kering di sana

Perkebunan sawit

Menunggu hingga tetes terakhir
Penghubung yang seadanya

Langit biru di sela gersang

Wednesday, March 11, 2015

Fun fact about me

Selama ini gue salah. 

Sebagai keturunan Kerinci asli, gue pikir gue gak punya marga. Padahal adat Kerinci mirip sama Minang yang menganut matrilineal, dimana garis keturunan diwariskan oleh ibu. 

Naaaah barusan gue ngobrol sama emak dan ternyataa GUE PUNYA MARGA!!! ahahahaha

marga gue Riojayo (entah bener apa engga cara nulisnya).

Well. Gua mau googling dulu ah. Bye!

Tuesday, March 3, 2015

Kakek dan Nenek

Aku lagi kangen sama tino (nenek) dan nantan (kakek). Iya, walaupun selama hidupku aku belum pernah ketemu sama nantan dan bahkan dulu mama juga masih bocah waktu ditinggal 'abak'nya, kakekku ini 'panjang umur' kok. 

Yang aku tau, kakekku itu hebat. Nantan dulunya pernah jadi tentara veteran, lalu jadi pegawai pemerintah biasa. Walaupun enggak belum ada anak cucunya yang ikutan jadi politikus, tapi nanti pasti ada salah satu dari kami yang meneruskan cita-cita beliau. Beliau ingin anak cucunya bisa menuntut ilmu sampai ke luar negeri ini. Amin.. pasti nanti ada. Mudah-mudahan aku salah satunya. 

Nantan yang jago berpidato

Nantan kasih penghargaan ke tentara (?)

Nantan (paling kiri) dan kawan-kawannya

Nah kalo tino, aah terlalu banyak yang aku ingat tentang tino dan itu bakal terus aku ingat. Tinoku itu tino paling baik sedunia yang udah banyak kasih pelajaran moral dan agama buatku. Gak kehitung deh banyaknya. Sejak aku lahir, aku gak pernah jauh-jauh dari tino. Sampai kadang aku ngerasa kalo aku ini cucu kesayangan tino ahahah. Alhamdulillah sampai akhir hayatnya aku masih bisa dekat dengan tino. 

Tino itu profesinya banyak. Pernah ikut SPG dan kemudian jadi guru, pernah juga jadi petani ngurusin ladang, terus tino pintar jahit juga. Berhubung mama juga pengajar, jadi aku lahir dari keluarga pengajar dan mudah-mudahan aku juga bisa jadi pengajar nantinya seperti mereka. Amiin.. 

Hmm, menurutku baik tino atau nantan, mereka berdua orang yang baik dan hebat. Semoga amal baik mereka diterima Allah dan mereka diberikan tempat terbaik di sana. Amiin ya Robbal alamin..


Tino sedang ngajar di sekolah
Tino sama temen-temen "arisan" nya. hahah

Tino (paling kiri) sama temen-temennya. Tino dulu eksis beuth sih