Sunday, July 10, 2016

Punten, Neng. Baksonya Habis (DUC #9)

Setelah kenyang (dan bosan) dengan santapan lebaran yang berbau santan dan rempah, biasanya orang-orang nyari makanan yang agak lain, MAKAN BAKSO. Apalagi kalau cuaca panas terik. Alih-alih mendapatkan kesegaran lain, orang lebih suka menantang dirinya sendiri dengan makan bakso ditambah sambal yang banyak. Tambah pedas tambah segar. Gak terkecuali gue. Bosan dengan hidangan yang itu-itu aja, gue pun mencari pengalihan makan bakso.

Adalah bakso yang cukup legendaris di kawasan cijerah raya dan sekitarnya, yang letaknya cuma kepisah empat blok dari rumah gue, namanya Bakso Maspur. Masih menjadi teka-teki siapa gerangan nama Maspur sebenarnya. Apakah sama dengan nama dosen gue atau bukan. Awalnya, Maspur kerja di warung bakso hits di komplek, sebut saja "Bakso Forever". Namun karena satu dan lain hal, doi bikin usaha bakso sendiri, namanya Bakso Purboyo (Nah, mungkin itu nama asli dia!). Usaha bakso dia awali dari bakso gerobak keliling, lalu mangkal permanen di Jalan Dakota dekat gerbang komplek gue. Karena usaha baksonya yang sukses, kini Maspur punya kedai sendiri di Jalan Fokker Raya No. 51, Komplek Melong Green Garden. 

Tapi apa sih yang sebenernya beda dari bakso Maspur? Bakso doi tergolong bakso solo yang kerasa banget komposisi daging lebih banyak dari tepung sehingga bikin dagingnya kerasa banget. Kuahnya yang bening mencerminkan bakso doi emang terjamin bersih dan fresh rasa sapi terasa, dengan asap yang masih mengepul. Bakso disajikan pake jeruk purut, jadi rasa asam gausah didapat dari cuka sehingga bikin ramah di perut yang punya sakit maag. Yang bikin istimewa dari baksonya, doi taro bumbu semacam bumbu biang, diracik dari berbagai rempah, yang doi sebut "bumbu goa". Sambel yang biasa jadi pamungkas bakso doi bikin dari cabe domba yang buat si sambel jadi seger dan pedesnya gigit banget. Kombinasi dari semuanya adalah semangkok bakso surgawi bernama bakso Maspur yang maknyus dan top markotop. Karena rasanya yang maknyus dan letaknya yang deket banget dan gue yang ngidam bakso, maka gue memutuskan untuk ngebaso di sana. 

Hari pertama gue datang setelah maghrib. Sayang seribu sayang, Maspur sudah tutup. Kecewa, gue balik lagi besoknya. Besoknya gue pergi jalan kaki dari rumah jam 2.30 siang. Dari kejauhan gue liat kedai Maspur rame betul, beberapa mobil dan motor parkir di depan kedai. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, sampai anak kecil memenuhi kedai. Walaupun dia punya kedai sendiri, tetep aja ngeracik baksonya di gerobak biar gregetnya dapet. Baru gue sampe depan gerobak, eh udah kepasang aja tulisan "Maaf baksonya habis". Buat meyakinkan gue tanya lagi, "Mas, habis beneran?" dan doi jawab "Iya punten Neng, baksonya habis". Kembali gue kecewa. Gue yang ngidam banget bakso Maspur gak kepikiran buat cari bakso lain. Barulah hari ketiga, yaitu siang tadi, gue udah bener-bener on fire di jiwa dan di lidah. Gue berangkat jam 2 dari rumah and THANK GOD!! bakso belum habis. Jadi juga gue ngebakso Maspur!

Selama gue nunggu bakso, jangan ditanya kondisi itu kedai. Penuh orang mau yang makan atau yang masih ngantri, pokoknya isinya orang. Saking penuhnya, bakso gue baru terhidang hampir satu jam kemudian. SATU JAM loh sodara-sodara!!! Dan memang betul legendaris, baru buka setelah dzuhur, hari ini bakso Maspur udah habis di jam 2.30 siang. Dalam rentang waktu 2.5 jam bakso laris manis! Gila! Biasanya pengunjung Maspur gak hanya dari komplek tapi juga dari komplek sekitar negeri cijerah raya, atau emang orang-orang kurang gawe yang rumahnya jauh banget dan bener-bener niat mau makan bakso doi, contohnya si Alifiya Ikhsani.

Buat pecinta bakso, bakso Maspur recommended banget dah... Doi buka setiap hari dari bada dzuhur sampai sehabisnya kecuali hari Jumat tutup. 

Default pesenan gue, yahun baso plus somay

Bahagia boleh sederhana, tapi kenikmatan harus HQQ.


Ps: special thanks to narasumber pelanggan Maspur sepanjang masa, Rizky Nur Hardiati.

No comments:

Post a Comment